Anak Sering Main Game Online? Ini Dampaknya Menurut Psikolog
Psikolog mengungkap dampak game online pada anak dan menjelaskan mengapa bermain fisik lebih baik untuk mendukung kreativitas, fokus, serta tumbuh kembang anak.
Inikabarku.com - Psikolog Klinis dan Keluarga Pritta Tyas menjelaskan perbedaan dampak bermain fisik dan game online terhadap tumbuh kembang anak. Bermain fisik dinilai mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga ketangguhan mental. Sementara itu, penggunaan game online yang berlebihan berpotensi memengaruhi fokus dan kualitas tidur anak.
Di era digital, anak-anak semakin akrab dengan gawai dan game online. Namun, Psikolog Klinis dan Keluarga Pritta Tyas menilai permainan fisik masih menjadi pilihan terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Menurutnya, aktivitas bermain yang melibatkan interaksi langsung dengan benda fisik mampu melatih kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga membangun ketangguhan mental sejak usia dini.
Perkembangan teknologi membuat anak-anak kini memiliki lebih banyak pilihan hiburan, termasuk bermain game online melalui berbagai perangkat digital. Meski demikian, para ahli menilai permainan fisik tetap memiliki manfaat yang lebih besar bagi proses tumbuh kembang anak.
Psikolog Klinis dan Keluarga Pritta Tyas menjelaskan bahwa bermain secara fisik atau melalui metode hands-on learning memberikan pengalaman belajar yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh permainan digital.
Menurutnya, aktivitas sederhana seperti menyusun balok atau Lego dapat membantu anak mengembangkan kreativitas serta kemampuan berpikir kritis. Saat bermain, anak dituntut untuk menemukan solusi, mengikuti instruksi, dan menghadapi berbagai tantangan yang muncul selama proses tersebut.
"Ketika anak melihat hamparan Lego bricks di depannya, dia bisa mencari beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Itu yang melatih kreativitas," ujar Pritta.
Tak hanya kreativitas, permainan fisik juga membantu anak mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan membangun resiliensi. Anak belajar memahami bahwa kesalahan dan kegagalan merupakan bagian dari proses menuju keberhasilan.
Selain itu, permainan fisik turut melatih kemampuan visual-spasial yang penting bagi berbagai profesi di masa depan, seperti arsitek, desainer, hingga pekerjaan di bidang kreatif.
Meski demikian, Pritta tidak menolak penggunaan teknologi digital. Ia menegaskan bahwa anak tetap perlu mengenal teknologi sebagai bagian dari kehidupan modern.
Namun, khusus untuk game online, orang tua diminta lebih berhati-hati dalam memberikan akses kepada anak. Menurutnya, penggunaan game online perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Pritta menilai paparan game online yang berlebihan dapat membuat anak terbiasa mencari stimulasi instan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fokus belajar dan kualitas tidur anak.
Fenomena ini dikenal sebagai popcorn brain, yakni kondisi ketika otak terus-menerus menerima rangsangan cepat sehingga sulit berkonsentrasi dalam aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama.
Karena itu, anak tetap membutuhkan waktu untuk bergerak aktif, bermain di luar ruangan, serta berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman sebaya.
Untuk anak usia dini hingga sekitar delapan tahun, Pritta menyarankan agar aktivitas bermain lebih banyak dilakukan melalui permainan fisik dibandingkan permainan digital.
Menurutnya, peran orang tua bukan sekadar membatasi penggunaan teknologi, melainkan memahami kebutuhan anak sesuai tahap perkembangannya dan memberikan pendampingan yang tepat selama proses belajar maupun bermain.