Fakta di Balik Pailitnya Perusahaan Teh Sariwangi

sariwangi-teh-celup

PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Perusahaan dianggap telah melanggar perjanjian perdamaian terkait utang piutang dengan PT Bank ICBC Indonesia.

Tak hanya Sariwangi, Bank ICBC Indonesia juga mengajukan pembatalan perdamaian dengan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Perusahaan yang masih dalam Sariwangi Group itu juga ikut dinyatakan pailit.

Ada apa sebenarnya dengan Sariwangi? Bagaimana sejarah perusahaan? Serta apa kabar industri teh tanah air?

Besaran Utang Sariwangi

Setelah tagihan kredit utang bermasalah Bank ICBC Indonesia sepakat dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Total utang Sariwangi kepada Bank ICBC Indonesia saat itu mencapai US$ 20.505.166 atau sekitar Rp 309,6 miliar.

"Ini posisi utang per tanggal putusan pengesahan perdamaian 9 Oktober 2015," kata Kuasa hukum ICBC, Swandy Halim dari Kantor Hukum Swandy Halim & Partner, Kamis (18/10/2018).

Namun sejak perjanjian itu pihak Sariwangi tidak memenuhi perjanjian dengan membayar cicilan utang. Hingga akhirnya PT Bank ICBC Indonesia mengajukan pembatalan perjanjian perdamaian

Berbarengan dengan Sariwangi, Bank ICBC Indonesia juga meminta pembatalan perjanjian perdamaian kepada PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Total utang perusahaan ini mencapai $ 2.017.595 dan Rp. 4.907.082.191.

"Pada intinya ada dua: PT Sariwangi tidak pernah membayar cicilan. Sementara satu lagi PT Indorub sudah telat 1 tahun lebih tidak bayar. Ini kan ada cicilan bunga yang mereka tidak bayar," tuturnya.

Cerita Anak Pendiri Sariwangi

Setelah Johan Alexander Supit sang pendiri perusahaan meninggal pada 21 November 2015, kursi pucuk pimpinan diteruskan oleh anaknya Andrew Supit. Namun posisi tersebut tak lama diduduki oleh Andrew.

Kepada detikFinance, Andrew mengatakan sudah tak lagi menjadi Direktur Utama PT Sariwangi sejak 30 Oktober 2015. Perusahaan tersebut tersebut diambil alih oleh pihak asing, yakni CR AROMA.

"Saya sudah tidak menjadi Direktur Utama PT SARIWANGI A.E.A. sejak 30 Oktober 2015 semenjak perusahaan diambil alih oleh perusahaan asing," katanya.

Dia mengatakan, perusahaan asing tersebut menguasai 70% dari Sariwangi A.E.A.

"Di mana perusahaan asing tersebut menjadi pemilik PT Sariwangi A.E.A. dengan menguasai 70% saham perusahaan," katanya.

Setelahnya, pihak keluarga tak lagi ikut terlibat dalam perusahaan tersebut. Keluarga tak lagi terlibat sejak 30 Oktober 2015 lalu.

"Kami keluarga sudah tidak pernah lagi involve di perusahaan semenjak 3O Oktober 2015," tuturnya.

Menilik Sumbu Persoalan Sariwangi

Lalu mengapa perusahaan teh yang sudah berdiri sejak 1973 ini bisa pailit?

Direktur Eksekutif Dewan Teh Indonesia (DTI) Suharyo Husen mengaku cukup mengenal dengan keluarga pemilik perusahaan tersebut. Menurutnya kondisi perusahaan mulai menurun ketika merek Sariwangi dibeli oleh Unilever. Meskipun dia mengaku tidak mengetahui secara detil.

"Sebelumnya mulai menurun yaitu pada saat dibeli Unilever. Waktu itu masih Pak Alex (Johan Alexander Supit) yang pegang. Jadi mereka kerja sama produksi tapi kan mereknya dijual," tuturnya.

Unilever sendiri hanya membeli merek Sariwangi bukan perusahaannya pada 1989. Meski sebagai pemegang merek Sariwangi, Unilever masih mengambil pasokan dari SAEA.

"Jadi produk-produk Sariwangi yang ada di toko-toko itu sudah punya Unilever," tuturnya.

Semenjak saat itu, SAEA hanya menjual teh dalam bentuk bahan baku. Namun menurut Suharyo kinerja perusahaan mulai menurun.

Kabar Industri Teh Tanah Air

Direktur Eksekutif Dewan Teh Indonesia (DTI) Suharyo Husen menjelaskan, industri teh tanah air memang saat ini sedang dalam proses untuk bangkit kembali setelah melesu sejak masa jayanya di tahun 70-an. Penurunan industri ini bisa dilihat dari semakin berkurangnya lahan kebun teh.

"Lahan teh itu setiap tahun berkurang 30 ribu hektar. Dulu lahan teh bisa mencapai 160 ribu hektar, sekarang berkurang jadi 117 ribu hektar," terangnya kepada detikFinance, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya ada beberapa faktor yang membuat lahan perkebunan teh di Indonesia berkurang. Para pemilik perkebunan teh, baik petani, swasta maupun perusahaan milik pemerintah merubah menjadi lahan untuk tanaman lain seperti kelapa sawi ataupun tanaman holtikultura.

"Mungkin alasannya karena desakan ekonomi, kalau teh saja mungkin dianggap enggak cukup. Kalau bagi swasta memandang dari segi bisnis," tambahnya.

Lahan perkebunan teh sebanyak 117 ribu hektar itu terbagi sekitar 53 ribu hektar merupakan milik para petani, sisanya dimiliki korporat baik swasta maupun perusahaan milik pemerintah.

Produktivitas secara industi juga menurun. Untuk kebun milik petani saat ini rata-rata produksi hanya sekitar 1 ton per hektar per tahun. Sementara korporasi sekitar 2,5-3 ton per hektar per tahun.

"Itu karena banyak tanaman yang tua juga. Untuk petani sedang mau didorong menjadi 2,5 ton per hektar. Ada gerakan penyelamatan agribisnis teh nasional. Jadi dari 53 ribu hektar sekarang sudah 15 ribu hektare yang diperbaiki. Sekarang kondisi industri teh kita sudah mulai menunjukan perbaikan," terangnya.

Meski begitu, produk teh RI namanya masih cukup harum di mata dunia. Menurut Suharyo produk ekspor teh RI saat ini menduduki posisi kedua setelah Sri Lanka.

Dari total produksi teh nasional saat ini sebanyak 130 ribu ton per tahun, sekitar 70 ribu ton di ekspor ke berbagai dunia. Sisanya dijual di dalam negeri.

"Harga jual teh kita di luar saat ini sekitar US$ 2 per kg, Sri Lanka US$ 3 per kg. Tapi sekarang harga produk teh kita sudah membaik sekitar US$ 2,2 per kg," tutupnya.

(detik.com - Danang Sugianto)
Previous
Next Post »