Belanja Oleh-oleh, Antara Terpaksa dan Sukarela - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Belanja Oleh-oleh, Antara Terpaksa dan Sukarela

shopping-oleh-oleh-belanja

Liburan kurang afdol kalau pulang tidak bawa oleh-oleh. Namun, belanja oleh-oleh itu antara terpaksa dan sukarela. Benar nggak sih?

Belanja oleh-oleh adalah kegiatan yang bikin liburan kita makin lengkap. Kemanapun kita pergi di Indonesia atau di luar negeri, pasti bisa wisata belanja oleh-oleh. Apalagi setiap kota dan negara pasti punya oleh-oleh yang khas, dari yang normal sampai yang ekstrem dan unik.

Kenapa pro kontra? Jangan salah, tidak semua traveler suka belanja atau malah dititipi oleh-oleh.

Karena nilai budaya komunal yang kuat, turis Indonesia dan Asia memang senang belanja oleh-oleh dalam jumlah banyak. Turis Eropa dan Amerika biasanya belanja oleh-oleh secukupnya.

Namun apakah memborong oleh-oleh itu menyenangkan ada justru keterpaksaan? Ini kembali lagi ke hubungan antar personal para traveler. Mereka terbagi antara yang suka meminta atau menunggu diberi oleh-oleh.

Namun meminta oleh-oleh tentu ada etikanya, jangan sampai lupa dengan kesopanan. Setiap orang punya alasan kenapa meminta dibelikan oleh-oleh.

Kalau urusan unggah-ungguh meminta oleh-oleh selesai, yang berikutnya adalah mau beli oleh-oleh apa. Ada yang bisa bikin repot dan mencari barangnya penuh suka dan duka. Tapi ada juga yang sengaja menjadikan oleh-oleh sebagai ladang bisnis. Terserah saja.

Sebaliknya di sisi yang kontra, ada juga traveler yang malas beli oleh-oleh. Kalau bisa, mereka mencari cara supaya tidak dititipi oleh-oleh.

Tentu bukan ingin melihat siapa yang paling benar. Justru di sini kita ingin melihat dari berbagai sisi dari yang setuju atau tidak mengenai wisata belanja oleh-oleh. Bagaimana dengan kamu?

(detik.com)