Kisah Petani China yang Terpaksa Mengamputasi Kakinya Sendiri - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Kisah Petani China yang Terpaksa Mengamputasi Kakinya Sendiri

petani amputasi kaki

Tak terbersit pun terbayang di benak Zheng Yanliang, bahwa suatu hari ia harus memotong kakinya sendiri. Petani asal China itu terpaksa melakukannya karena tak mampu membayar biaya rumah sakit untuk mendapat perawatan kakinya yang membusuk.

Pria asal Provinsi Hebei di utara China tersebut mengalami infeksi di kakinya tahun lalu. Sirkulasi darahnya rusak. Itu yang membuat kondisinya makin buruk, hingga terbentuk gangren di kakinya. Gangren adalah kondisi serius yang muncul ketika banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis atau mati.

Saat berobat ke dokter, Zheng diberi tahu, ia membutuhkan operasi dan bisa kehilangan satu kakinya. Saat itulah, pria 47 tahun itu menyadari, ia punya masalah besar.

"Aku bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk operasi," kata dia, seperti dimuat BBC, Rabu (1/1/2014).

"Dokter mengatakan, biaya operasi satu kaki mencapai 300 ribu yuan atau Rp 602 juta dan bisa mencapai lebih dari sejuta yuan atau Rp 2 miliar untuk dua kaki. Aku sama sekali tak mampu, aku saat itu hanya punya uang 20 ribu yuan (Rp 40 juta)," tambah dia.

Kasus Zheng, meski ekstrem, menyoroti kelemahan dalam sistem perawatan kesehatan China, terutama bagi mereka yang tinggal di pedesaan.

Sebenarnya, Zheng punya asuransi medis dalam skema asuransi kesehatan pemerintah. Tapi dia harus membayar biaya di muka dan tak semua bisa diklaim.

Menggergaji Kaki

Tak punya uang untuk membiayai operasi, Zheng tak punya pilihan kecuali kembali ke rumahnya di Desa Dongzang, Qingyuan. Menahan rasa sakit tak terperi.

"Aku hanya bisa terbaring di tempat tidur lebih dari 3 bulan. Kakiku menghitam. Kulit dan dagingnya semua gelap," kata dia.

Tak hanya itu. "Ada belatung di dalam kakiku, aku bahkan bisa melihat tulangku. Membuatku muak."

Akhirnya, Zheng yang tak lagi bisa menahan deritanya memutuskan melakukan tindakan drastis. "Aku bilang ke istriku, aku akan menggergaji kakiku. Ia sama sekali tak senang mendengarnya. Kami sempat berselisih paham dan ia keluar rumah."

Lalu, hal mengerikan dilakukan Zheng. "Aku menemukan gergaji besi di bawah tempat tidur. Juga pisau kecil. Aku melakukannya dalam waktu 20 menit," kata Zheng.

Ia masih ingat, betapa menderitanya saat itu. Dalam kondisi sadar, menggigit tongkat yang dibungkus handuk kuat-kuat, menahan sakit. 'Operasi' mengerikan itu dilakukannya April 2012, namun baru belakangan dilaporkan media China, yang memicu debat soal ketidakadilan sistem jaminan kesehatan di China, terutama untuk keluarga dengan penghasilan rendah.

Sejumlah orang yang iba mendonasikan uang lebih dari 300 ribu yuan untuknya. Ia juga mendapat tawaran perawatan kesehatan gratis. Meski telat.

"Aku tak punya penghasilan. Aku berharap pemerintah atau rumah sakit akan merawatku. Bagaimana kalau aku sampai sakit?," kata Zheng.

Zheng, seperti halnya 1,3 miliar penduduk China tinggal di wilayah pedesaan. Meski pemerintah telah mereformasi sektor kesehatan, sekitar 80 persen layanan medis terkonsentrasi di perkotaan.

Membuat masyarakat desa terpinggirkan. "Kami masih kekurangan dokter yang bagus dan berkualitas. Kebanyakan mereka terkonsentrasi di kota, di rumah sakit besar," kata Profesor John Cai, Direktur Centre of Healthcare Management and Policy, China Europe International Business School.

"Menambah beban petani di pedesaan seperti Zhen. Ia harus pergi ke kota besar, harus mengeluarkan transportasi dan hotel," kata dia.

Pemerintah menjanjikan sistem perawatan kesehatan lebih mudah diakses dan terjangkau. Rumah sakit diminta memotong harga obat yang mahal, menyediakan perawatan dan tes diagnostik yang tidak bikin bangkrut rumah tangga termiskin.

Beijing ingin menyediakan perawatan kesehatan universal bagi seluruh penduduk, baik di perkotaan dan pedesaan pada 2020.

Namun, untuk mencapainya dibutuhkan biaya mahal. Tiga kali lipat pada 2020, yang artinya mencapai US$ 1 triliun. China harus mencari uang untuk menutupi biaya tersebut.

Sumber: liputan6.com