Astaga Akhirnya Rupiah Tembus 12 Ribu/US$ - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Astaga Akhirnya Rupiah Tembus 12 Ribu/US$

rupiah

Kemungkinan penarikan dana stimulus Bank Sentral Amerika Serikat (tapering The Fed) ditambah sejumlah faktor internal di dalam negeri telah menghantam rupiah hingga amblas ke level 12 ribu per dolar AS.


Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperparah dengan keraguan para investor bahwa pemerintah Indonesia mampu merampingkan jumlah defisit transaksi berlajan dan perdagangan negara.

Seperti dikutip dari data Valuta Asing (Valas) Bloomberg, Kamis (28/11/2013), rupiah tercatat menembus level 12.013 per dolar AS pada perdagangan pukul 14:26 WIB. Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level 12.025 per dolar AS pada perdagangan pukul 14:05 WIB.

Lelang Surat Utang Negara (SUN) yang hanya mampu menyerap dana US$ 190 juta dari target US$ 450 juta juga menjadi pemicu keterpurukan rupiah. Lemahnya rupiah hingga menyentuh level 12.000 per dolar AS merupakan peringatan awal bagi pemerintah Indonesia.

"Level 12.000 merupakan level psikologis yang sangat penting yang bisa membuat negara semakin gugup dan cemas," ungkap pakar strategi valuta asing di Australia & New Zealand Banking Group Ltd., Irene Cheung.

Hal senada juga diungkapkan Chief Economist Danareksa Research Institute, Purbaya Yudho Sadewa yang menyatakan para importir bisa ketar-ketir kalau rupiah sampai kebablasan. Purbaya yakin anjloknya nilai tukar rupiah ke level 12 ribu per dolar AS dapat merugikan banyak sektor.

Timbulnya anggapan bahwa rupiah dan ekonomi Indonesia hancur merupakan yang paling ditakuti Purbaya mengingat para eksportir tak akan bisa lagi menikmati keuntungan dari menguatnya dolar AS.

Dengan segala kekhawatiran ini, Purbaya mengimbau pemerintah dan Bank Indonesia untuk segera membuat kebijakan yang tepat. Nilai tukar rupiah seharusnya dijaga agar tidak jauh dari nilai fundamentalnya.

Sementara itu, Gubernur BI Agus Martowardojo menilai rupiah saat ini masih dalam kondisi yang mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Memang diakui Agus, penurunan nilai tukar rupiah dipicu sejumlah faktor eksternal dan peningkatan permintaan dolar menjelang akhir bulan.

"Ini tetap mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia, mohon jangan kuatir. Tapi Indonesia saat ini sudah semakin ramping dan siap secara tingkat bunga karena sudah disesuaikan. Defisit transaksi berjalan sekitar 3,8% dari PDB juga kita katakan oke," ungkap Agus.

Sumber: liputan6.com