Roller Coaster yang Didesain untuk Membunuh Penumpangnya - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Roller Coaster yang Didesain untuk Membunuh Penumpangnya


Roller coaster ini dirancang oleh Julijonas Urbonas, seorang artis, penulis, juga teknisi berkebangsaan Lituania. “Pada intinya ini adalah mesin eutanasia dalam bentuk roller coaster,” ungkapnya. Roller coaster ini dirancang untuk mengambil nyawa secara anggun. Penumpang akan mengalami euforia hingga kehilangan kesadaran, dan akhirnya mengalami kematian.

Urbonas membagi roller coaster ini dalam dua tahap, yang pertama adalah menara setinggi 500 meter dan yang kedua adalah serangkaian jalur berputar.

Penumpang akan duduk dan menggunakan alat pantau kesehatan di tubuhnya. Dalam perjalanan naik menuju ujung menara roller coaster setinggi 500 meter, ia diharapkan memiliki cukup waktu untuk melakukan retrospeksi diri selama masa hidupnya, sambil memperhatikan benda-benda di atas tanah tampak semakin mengecil dan merasakan kereta membawanya ke atas, detik demi detik.

Setelah melewati puncak, penumpang akan merinding, menikmati embusan angin, napasnya tertahan, serta mengalami vertigo. Serangkaian pengalaman yang menurut Urbonas layaknya anastesi yang menyenangkan, mengantarkan penumpang ke bagian mematikan dari permainan ini.

Selanjutnya penumpang membutuhkan usaha lebih berat untuk bernapas, karena tulang iga dan sisa organ dalam lainnya tertarik ke bawah, mengosongkan udara dari paru-parunya. Dalam tahap ini, bisa saja penumpang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri karena gaya ini mengakibatkan darah mengalir ke ujung-ujung tubuh, dan otak pun kekurangan oksigen.

Jika penumpang masih sadar juga, maka ia akan mengalami keterbatasan penglihatan, termasuk disorientasi, kesenangan, kebingungan, dan yang paling penting: euforia. Pada puncaknya tubuh tak lagi bisa dirasakan dan orang akan mengalami mimpi yang aneh, dan tak lagi mengenali diri sendiri.

Sisa perjalanan terakhir yang terdiri dari enam atau lima putaran memastikan bahwa otak benar-benar mengalami kekurangan oksigen, dan akhirnya tak berfungsi lagi. Urbonas mengalami banyak tanggapan akan rancangannya ini. Mulai dari orang-orang yang setuju untuk melakukan eutanasia saat penyakit fatal mendera mereka, hingga orang yang skeptis karena tak yakin apakah roller coaster ini akan benar-benar menimbulkan perasaan menyenangkan sebelum ajal menjemput.

Dalam bagian jalur berputar, penumpang akan mengalami tekanan 10G dalam waktu satu menit. Hal ini akan membuat otak kekurangan oksigen hingga mengalami “sesak napas”.

Pada saat ini, orang akan mengalami euforia. “Ini adalah mesin eutanasia alternatif masa depan, yang bisa digunakan untuk mengatasi over populasi atau bagi seseorang yang mengalami kehidupan terlalu panjang,” ungkap Urbonas dengan yakin. Ikuti detik-detik yang dialami oleh penumpang, di sini.

John Allen, mantan presiden Philadelphia Toboggan Company, perusahaan yang telah membuat roller coaster sejak 1904 mengatakan, roller coaster yang memiliki panjang lintasan 7.544 meter, dengan kecepatan 100 meter per detik ini tak mustahil untuk diciptakan.

Penyebab kematian yang akan dialami oleh penumpang adalah cerebral hypoxia, atau kekurangan oksigen di otak. Sementara efek samping yang dialami adalah: hilangnya warna dalam penglihatan, visi hanya terfokus pada titik tengah, pandangan buram, hingga blackout. Efek yang terakhir adalah kehilangan kesadaran akibat G-force. Proyek ini merupakan bagian dari riset penelitian Urbonas dalam mendapatkan gelar PhD di Royal College of Art, Inggris.