Mengaku Anak Jenderal, Pengemudi Ini Paksa Buka Portal "Busway" - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Mengaku Anak Jenderal, Pengemudi Ini Paksa Buka Portal "Busway"


Seorang pengendara mobil Honda Jazz memaksa petugas untuk membuka portal jalur bus transjakarta di Galur-Senen, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2013). Hal itu seperti diinformasikan akun Twitter resmi unit pengelola Transjakarta Busway, @BLUTransJakarta, sekitar pukul 10.00 WIB.

"Pngndra mbl (mengaku anak jenderal) paksa ptgs buka portal utk msk jlr busway di Galur-Senen @TMCPoldaMetro," demikian tulis akun tersebut.

Posting-an ini pun mendapatkan respons dari sejumlah pengguna akun, salah satunya dari @mellhana, "@BLUTransjakarta @TMCPoldaMetro peraturan tetap lah peraturan! Bagus kalau pihak Traja tetep ga bukain ! Good Job ;)."

Respons lainnya disampaikan @riyanwahyudi, "@BLUTransJakarta @TMCPoldaMetro foto mukanya gak ada ini? Biar malu sekalian dia", dan @AnjarSolo1, "Anak jendral? Kelakuan kopral “@BLUTransJakarta mengaku anak jenderal, paksa ptgs buka portal utk msk jlr busway."

Tunjukkan Kartu Nama Jenderal

Kepala Humas Unit Pengelola (UP) Transjakarta Sri Ullina Pinem mengatakan, pengemudi Honda Jazz yang memaksa petugas membuka portal busway menunjukkan kartu nama seorang jenderal aktif. Pengemudi itu mengaku anak jenderal dan memaksa petugas palang pintu untuk membuka portal busway di Galur-Senen, Jakarta Pusat.

Sri menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada Selasa (30/7/2013) pukul 09.30 WIB. "Memang betul ada peristiwa pemaksaan itu, dengan posisi di palang pintu Galur arah Senen, Jakarta Pusat," kata Ulina kepada Kompas.com, Selasa siang.

Sri mengatakan bahwa pengemudi Honda Jazz itu terus memaksa dua petugas yang saat itu bertugas di palang pintu tersebut. Di dalam mobilnya, pengemudi tersebut itu mengaku sebagai anak jenderal ternama di Indonesia. Selain itu, ia juga menunjukkan kartu nama seorang jenderal kepada para petugas penjaga busway.

Sri enggan mengatakan siapa oknum jenderal di dalam kartu nama tersebut. Namun, ia memastikan bahwa nama jenderal yang tercantum dalam kartu nama tersebut masih aktif bertugas dan belum pensiun. Sri mengaku tak mengetahui ciri-ciri sang "anak jenderal" tersebut.

"Memang betul kalau dia mengeluarkan kartu nama seorang jenderal. Tapi, yang pasti dia mengaku sebagai anak jenderal," kata Ulina.

Menurut Sri, peristiwa itu terjadi selama kurang lebih 10 menit. Dampak dari adu mulut antara "anak jenderal" dan petugas palang pintu itu menyebabkan arus lalu lintas di sekitar kawasan itu menjadi macet. Bus transjakarta koridor II rute Harmoni-Pulo Gadung di jalur itu terpaksa mengantre di belakang mobil "anak jenderal".

Petugas transjakarta akhirnya bersedia membukakan palang pintu karena bus transjakarta di belakang mobil "anak jenderal" itu membawa banyak penumpang. Sri mengatakan, pada saat kejadian itu, tidak ada petugas kepolisian yang berada di sekitar lokasi kejadian.

"Pokoknya sesuai prosedur tetap (protap), siapa pun tidak boleh melintasi jalur busway. Kalaupun yang melintas dan memaksa masuk itu Pak Jenderal-nya, tetap dia tidak berhak untuk melintas di jalur busway transjakarta," kata Ulina.

Terungkap, Identitas "Si Anak Jenderal"

Identitas pemilik mobil Honda Jazz bernomor polisi B 1011 UKF yang memaksa membuka palang busway di Jalan Galur, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2013), akhirnya terungkap.

Kepala Subdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hindarsono menjelaskan, pemilik Honda Jazz adalah Herman Gunawan, yang beralamat di Jalan Sunter Hijau 1, Sunter, Jakarta Utara.

"Petugas kami masih menyelidikinya, apakah pemilik mobil atas nama tersebut, yang saat kejadian mengendarainya atau bukan. Semuanya masih kami dalami," kata Hindarsono seperti dikutip Warta Kota.

Selain itu, polisi belum dapat memastikan apakah pemilik Honda Jazz tersebut adalah anak jenderal seperti pengakuannya. Semuanya masih dalam penyelidikan. Hindarsono menambahkan, yang pasti pemilik Honda Jazz tersebut terkena pelanggaran lalu lintas karena mencoba menerobos jalur bus transjakarta.

Sumber: kompas.com