Ketua DPR, Marzuki Alie: Saya Bersyukur Harga Jengkol Naik! - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Ketua DPR, Marzuki Alie: Saya Bersyukur Harga Jengkol Naik!



Ketua DPR RI, Marzuki Alie, mengaku bersyukur harga jengkol naik di sejumlah wilayah Indonesia.

"Kalau harga jengkol naik saya bersyukur, artinya ada penghargaan atas produk lokal Indonesia yang sebagian  warganya suka makan jengkol," kata Marzuki ketika dikonfirmasi oleh wartawan, Rabu (5/6/2013).


Harga jengkol di sejumlah wilayah Indonesia terutama Jawa naik menjadi Rp 50 ribu per Kg. Di Pasar Singaparna Tasikmalaya misalnya telah sebulan ini pedagang tidak mendapat pasokan jengkol.

Harga jengkol di pasar itu terakhir mencapai Rp 40 ribu per Kg lebih mahal dari harga ayam Rp 28 ribu per Kg.

Menurut Marzuki Alie, jengkol beda dengan komoditi lain seperti beras.  "Tidak makan jengkol tidak mengakibatkan rakyat menjadi lapar, tetapi justru rakyat atau petani khususnya yang menghasilkan jengkol dapat menikmati hasil kebunnya karena harga yang bagus," kata Marzuki.

Ditanya bukankah harga jengkol mahal merugikan konsumen pemakan jengkonl? Jawab Marzuki," Makan jengkol tidak banyak, gak sampai 1 ons, bisa mabuk jengkol kalau banyak-banyak dimakan," kata dia.

Tanggapan Para Pejabat Lain

Gara-gara harganya melejit, urusan "perjengkolan" ini sampai juga ke jajaran pemerintah pusat. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengakui permintaan konsumen terhadap bahan makanan seperti jengkol berpotensi naik jelang bulan puasa seperti sekarang.

"Biasanya barang-barang sejenis seperti petai, jengkol dan kabau itu menjelang puasa meningkat," ujarnya saat ditemui di kantornya, akhir pekan lalu.

Melambungnya harga jengkol, ternyata bukan cuma bikin konsumen dongkol. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sampai ikut mengurut dada lantaran harga bahan makanan ini lebih mahal dari daging ayam.

Dahlan mengaku sedikit kecewa mendengar harga jengkol yang naik dua kali lipat. Namun Dahlan sendiri belum mendapat cerita dari sang istri yang pecinta jengkol kalau harga bahan pangan itu melambung tinggi.

"Astaga, kok istri saya tidak bilang ya. Istri saya biasa belanja di Pasar Santa (Jakarta Selatan-red), itu makanan kesukaan dia, istri saya senang jengkol tapi saya tidak. Tapi petai saya senang," ujarnya dengan muka prihatin.

Walau bukan bidangnya mengurusi bahan makanan, mantan direktur utama PLN ini terbersit mendirikan BUMN khusus menangani jengkol. Tentu, ini ide main-main, tapi dilatari perasaan dongkolnya atas kenaikan harga jengkol yang belum pernah setinggi ini dalam satu dekade terakhir.

"Lucu-lucuan aja ya, nanti akan ada BUMN jengkol yaitu PTPN XV," ucap Dahlan sambil tertawa.

Tawa Dahlan barangkali langsung berhenti jika dia tahu kini nasib petai, yang dia gemari, sebelas dua belas dari jengkol. Giliran penggemar petai harus bersiap lunglai karena terpaksa lebih irit membeli bahan pangan favoritnya jika tak ingin kantong jebol.

Di pasaran luar Jawa, petai sudah menunjukkan kenaikan harga signifikan. Bahkan, lonjakannya lebih mengerikan dari jengkol. Sebab, harga petai mencapai Rp 80.000 per kg. Tingkat harga itu kini hampir menyamai harga daging sapi per kilogramnya yang sekitar Rp 90.000 per kg, seperti terlihat di pasar Kota Pekanbaru, Riau.

Meski gawat darurat petai dan jengkol, pemerintah tidak terlalu ambil pusing. Hatta Rajasa yakin kedua bahan pangan itu kenaikan harganya tak akan sampai menimbulkan gejolak ekonomi.

Berkaca dari sejarah republik ini, politikus PAN itu melihat jengkol dan petai belum pernah menyumbang peningkatan inflasi sehingga menggerus daya beli masyarakat.

"Saya kira itu tidak terlalu besar dan mempengaruhi inflasi. Belum ada inflasi tinggi karena jengkol," tandasnya.