Harga Jengkol dan Petai Melonjak Tajam! - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Harga Jengkol dan Petai Melonjak Tajam!



Warga Indonesia tentu sudah akrab dengan varietas polong-polongan petai dan jengkol. Keduanya adalah tanaman khas Asia Tenggara. Tidak cuma wilayah tumbuhnya, dua bahan masakan ini punya sifat khas lain, yaitu menimbulkan bau badan menyengat bagi orang yang mengonsumsinya.

Meski demikian, tidak dipungkiri banyak warga negara ini menggemari, bahkan ada yang kecanduan, menikmati masakan olahan petai dan jengkol. Dua bahan pangan ini setelah dimasak memberikan sensasi rasa gurih agak pahit bikin nagih.

Terbukti, bangsa ini punya variasi masakan olahan jengkol dan petai bejibun. Mulai dari petai gado tempe, rendang jengkol, semur jengkol, atau sekadar menjadikan petai bahan penyedap nasi goreng. Penikmat kuliner tak peduli nanti muncul risiko bau mulut ataupun air seni beraroma kurang sedap.

Celakanya, sejak akhir bulan lalu pergerakan harga dua bahan makanan populer itu bikin keki para penggemar.

Awalnya yang terhenyak adalah para pecandu jengkol. Di wilayah Jabodetabek, harga jengkol mencapai Rp 50.000 per kilogram. Sampai awal pekan ini, harganya masih stabil tinggi.

Harga jengkol itu bahkan lebih tinggi dari beberapa bahan pokok lain seperti daging ayam negeri. Menurut data Kementerian Perdagangan, per 28 Mei, harga ayam broiler di pasaran sebesar Rp 26.122 per kg.

Jengkol pun mengalahkan harga sembako lainnya seperti telur ayam kampung, cabe merah dan bawang merah. Telur ayam kampung di pasaran mencapai Rp 35.127 per kg sedangkan cabe merah dan bawang merah rata-rata Rp 30.000 per kg.


Harga Petai Lebih Mahal dari Harga Daging Sapi

Harga petai di beberapa pasar tradisional di wilayah Malang, Jawa Timur, melampaui harga daging sapi yang hanya Rp 90.000 per kilogram. Petai kini harganya sudah meroket mencapai Rp 100.00 per kilogram.

Untuk harga jengkol, di beberapa pasar tradisional hanya mencapai Rp 20.000 hingga Rp 30.000. "Di sini malah petai yang harganya sangat mahal. Sejak kemarin naik menjadi Rp 100.000. Harga semula saat musim, per ikatnya hanya Rp 15.000," kata kata Azizah, penjual petai di Pasar Induk Gadang, Kota Malang.

Sejak harga naik, para pedagang petai di pasaran serentak menjual petai per kilogram seharga Rp 100.000. Tidak lagi menjual perikat. "Karena harganya mahal, kita jual per kilo. Karena sekarang bukan musim petai. Tapi belum langka. Mungkin seminggu lagi sudah langka," kata Azizah.

Menurutnya, harga petai menjadi mahal, karena mengikuti harga jengkol yang juga naik. "Selain itu, saat ini sudah bukan musin petai dan jengkol. Akibat mahal, juga jarang pembelinya," aku Azizah.

Sementara itu, di pasar tradisional Madyopuro, para pedagang menjual petai seharga Rp 150.000 per kilogram. "Di sini sudah naik jadi Rp 150.000 perkilonya. Sebelumnya hanya Rp 20 per ikatnya. Harga naik karena barangnya langka. Petai dan jengkol ambil barangnya dari Blitar dan Kediri," kata Antoni, pedagang petai. 

Antoni mengaku konsumen petai dan jengkol adalah pemilik warung nasi. Misalnya warung Padang. "Kalau perorangan paling hanya beli satu kilo petai. Itupun jarang. Mayoritas pembelinya pemilik warung," kata Antoni. 

Antoni mengaku beberapa hari ini petai dan jengkol mulai langka. "Tapi jika ada pesanan masih ada. Hanya pembelinya yang jarang karena harga petai itu melampaui harga daging sapi," katanya. 

Di wilayah Malang jarang petani jengkol dan petai. "Mungkin itu yang membuat mahal. Tapi pedagang di sini, tahu kalau harga jengkol dan petai mahal, dari berita di tivi" ungkap Antoni.



Apa penyebabnya?


Naiknya harga jengkol di sejumlah daerah hingga menyentuh angka Rp 50.000 per kilogram memicu spekulasi soal pemicunya. Apa kira-kira penyebabnya?

Para pedagang di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, misalnya, menduga kenaikan tersebut akibat terjadi kelangkaan di pasaran. Suryani, seorang pedagang sayur-sayuran di Pasar Rangkasbitung, mengatakan, sejak tiga pekan terakhir, pasokan jengkol dari petani menghilang.

Menghilangnya pasokan jengkol kemungkinan karena belum memasuki musim panen.
"Karena itu, jika ada jengkol dipastikan harganya melambung hingga mencapai Rp 50.000 per kg atau melebihi harga daging ayam sebesar Rp 25.000. Harga normal jengkol bisanya sekitar Rp 20.000 per kg," katanya.

Sementara itu, Soleh, seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung, menduga pasokan jengkol dari sejumlah petani di Kabupaten Lebak berkurang karena banyak pohon jengkol ditebang untuk keperluan bangunan perumahan maupun kerajinan rumah tangga.

"Berkurangnya pasokan jengkol itu karena banyak pohon jengkol beralih fungsi menjadi perumahan maupun perkebunan. Sebelumnya, sentra jengkol di Kabupaten Lebak hampir merata di setiap kecamatan," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini jengkol di Rangkasbitung dipasok dari Provinsi Lampung dan Palembang.

"Kami berharap petani bisa mengembangkan kembali tanaman jengkol karena permintaan pasar cukup tinggi," katanya.

Kepala Pasar Rangkasbitung Dedi Rahmat mengakui selama ini pasokan jengkol di pasaran menghilang sehingga pedagang terpaksa berjualan komoditas lain. Mereka para pedagang jengkol saat ini beralih menjadi pedagang buah-buahan maupun umbi-umbian akibat kelangkaan tersebut.

"Saya kira kelangkaan jengkol ini kali pertama akibat belum tibanya musim panen juga banyak pohon jengkol digunakan untuk pembangunan rumah," katanya.