1st Anniversary ASPERTINA: Kondangan Peranakan Tionghoa



Dalam rangka 1st Anniversary ASPERTINA (Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia), akan diadakan acara Cultural Fashion Show dengan tema "Kondangan Peranakan Tionghoa" pada hari Kamis, tgl 8 November 2012, jam 18.30 di Grand Ballroom, Hotel Mulia Jakarta. 



Generasi muda keturunan Tionghoa di Indonesia tidak memahami akar budaya mereka akibat kebijakan pemerintah sebelum orde reformasi. Ketua Umum Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) Andrew Susanto mengatakan kekhawatiran itu membuat mereka ingin menggelar acara Kondangan Peranakan Tionghoa. 

"Nanti akan ada fashion show baju pengantin peranakan Tionghoa. Kami mengajak generasi muda untuk melestarikan budaya," ujarnya pada hari Rabu 31/10/2012. 

Menurutnya, sebagai peranakan Tionghoa dia berterima kasih kepada masa reformasi. Sebab, selama 40 tahun budaya Tionghoa tidak diperbolehkan berkembang. Mereka hanya bisa mengembangkan pada level rumah tangga. "Satu tahun lalu, tepatnya 28 Oktober 2011 Aspertina berdiri dan sekarang anggotanya sudah 200 orang lebih," tambahnya.


Kondangan Peranakan Tionghoa akan digelar di Hotel Mulia Jakarta pada 8 November 2012. Semua pengunjung yang datang akan diabadikan dalam foto yang akan dibukukan.


Kondangan Peranakan Tionghoa ini merupakan acara peragaan busana yang mengangkat tema seni budaya peranakan Tionghoa. Seni ini merupakan bagian dari budaya Indonesia sebagai living heritage. Akan ditampilkan busana karya-karya kontemporer busana dengan latar belakang budaya peranakan Tionghoa. Selain itu juga ada busana yang dikenakan oleh pengunjung sebagai karya-karya tradisional.

Pada acara ini juga akan dihidangkan menu masakan yang unik yaitu masakan khas peranakan Tionghoa. Para tamu juga diharapkan untu mengenakan pakaian khas. Untuk pria mengenakan beskap dan jas tutup, sedangkan wanita mengenakan kebaya nyonya atau kebaya encim.


Kondangan Peranakan Tionghoa akan menampilkan karya-karya dari tujuh desainer ternama, yaitu: Ghea Panggabean, Musa Widyatmodjo, Deden Siswanto, Rudy Chandra, Jeanny Ang, Susi Luçon dan Hian Tjen. 



Para desainer yang akan menampilkan hasil karyanya pada acara ini yaitu:


Ghea Panggabean
Ghea Sukarya Panggabean yang dikenal sebagai perancang busana etnik, lahir di Rotterdam, Belanda 1 Maret 1955.

Selain menciptakan motif tekstilnya sendiri, baik print maupun buatan tangan yang diaplikasikan ke berbagai bahan, Ghea juga mendesainnya menjadi baju ready to wear yang eksklusif.


Kecintaannya terhadap etnik telah membuatnya melalang buana untuk lebih mengenal etnik di berbagai negara.


Saat ini Ia memiliki beberapa outlet di Jakarta. Koleksinya dari casual mix sampai high fashion garments yang sophisticated.


Susi Luçon


Setelah selesai sekolah mode di Paris, Susi Luçon sempat bekerja di rumah mode Christian Lacroix. Keterampilan dalam pecah-pola membuat boning pada busana karyanya nampak rapi dan sangat pas di tubuh saat dikenakan.

Berbeda dengan gaun malam model strapless pada umumnya dengan letak restleting di bagian belakang, Susi meletakkan restleting rancangannya pada sisi dari busana, sehingga hasilnya sebuah gaun malam yang benar-benar dibuat untuk tubuh. Selain gaun malam modern, Susi juga terkenal akan cheongsam dan kebaya modern buatannya.



Musa Widyatmojo


Sebagai designer papan atas Indonesia, Musa Widyatmodjo yang di lahir di Jakarta, 13 November memiliki filosofi “Fashion is not just to be admired it must be wearable” dan hasil rancangannya senantiasa terispirasi oleh budaya Indonesia.

Lulusan Fashion Design Drexel University Philadelphia-USA ini, tahun lalu di JFFF juga telah meluncurkan koleksi ready to wear-nya yaitu “M” by Musa Widyatmodjo dan mendapatkan sambutan yang luar biasa.


Saat ini ia bersama perusahaannya PT Musa Atelier memproduksi 1.500 pakaian dalam 1 bulan yang disebar di sejumlah butik di mal-mal besar di Jakarta.


Deden Siswanto

Berangkat dari kegemarannya menggambar, Deden Siswanto menjadi salah seorang celebrated designer di Ibu Kota. Koleksinya yang bergaya vintage dengan sentuhan folklor pun memberikan warna baru bagi belantika mode Tanah Air.

Deden pun memulai terjun ke dunia mode dengan mengambil pendidikan mode di Sekolah Modeling dan Fashion Studio Intermodel, Bandung. Kemudian dia bekerja di bidang children wear kemudian berpindah ke ladies wear.


Pada 2000 setelah meluncurkan lini pribadinya, dia bergabung bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Kini Deden menjabat sebagai ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) Bandung.


Jeanny Ang

Jeanny Ang lahir di Jakarta, 8 Oktober 1970. Ia pernah mengeyam pendidikan di Hongkong International Design School; Lembaga Pendidikan Susan Budiarjo; Cover Look Singapore dan Lembaga Harry Dharsono.

Tahun 1993, Jeanny menjadi semifinalis Lomba Perancang Mode Femina. Tahun 1994, ia menjadi finalis lomba yang diadakan oleh Majalah Kartini. Tahun 1999, Jeanny membuka usaha bridal dan salon dengan nama Cassorie Bridal.


Tahun 2002, ia membuka butiknya yang kedua di Mall Taman Anggrek yang diberi nama “Jeanny Ang Couture” dan bergabung dengan APPMI tahun 2004.


Rudy Chandra

Rudy Chandra adalah desainer yang terkenal berkat gaun-gaunnya yang tidak hanya mewah tetapi juga sangat kuat dalam unsur kekinian terinpirasi oleh semangat urban yang modern.

Berbagai penghargaan/prestasi yang pernah dicapainya adalah pada tahun 1989 sekolah mode Susan Budiharjo, tahun 1989 – 1993 magang di butik Susan Budiharjo sebagai Assistent Designer.


Tahun 1996 membuka butik dengan label Rudy Chandra, tahun 2001 sebagai anggota APPMI serta mengadakan / mengikuti show-show di berbagai daerah juga diluar negeri.


Hian Tjen



Hian Tjen merupakan Pemenang Favorit Lomba Perancang Mode pada tahun 2007. Hian juga rajin ikut berbagai kompetisi selain LPM, bahkan lomba perancang busana di Hong Kong.

Hian mendesain gaun untuk Puteri Indonesia Pariwisata 2010 , gaun rancangannya ketika itu berhasil menyabet penghargaan Best Style Dress Awards. 


Hian kembali mendesain gaun untuk Putri Indonesia Pariwisata 2011 untuk berlaga di ajang Miss Asia Pacific World 2011.


Hian Tjen juga biasa mengerjakan evening dress. Cita-cita Hian selanjutnya adalah bridal line.


Sumber: bisnis.com,  kondanganperanakan.com



Baca juga:
1st Anniversary ASPERTINA: Kondangan Peranakan Tionghoa
Peranakan Tionghoa di Nusantara : Catatan Perjalanan dari Barat ke Timur
Peragaan Busana 'Kondangan Peranakan Tionghoa'
Previous
Next Post »