Sepatu Anti Kekerasan Seksual hingga Tas Telur - IniKabarKu.com

Breaking


PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Sepatu Anti Kekerasan Seksual hingga Tas Telur

okezone.jpg

Puluhan inovasi remaja dipamerkan di gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Salah satu kesan yang bisa ditangkap dari ragam inovasi yang ditampilkan adalah bahwa inovasi berasal dari masalah keseharian.

Salah satu yang bisa menjadi cerminan adalah inovasi "Sepatu Anti Kekerasan Seksual" yang dibuat oleh Hibrar Syahrul Gafur dari SMPN 1 Bogor. Sepatu dilengkapi dengan sistem listrik mirip dengan alat pembunuh nyamuk untuk memberi efek kejut pada pelaku yang hendak melakukan tindakan kekerasan seksual.

"Tegangan listrik yang dipakai di alat 2000 Volt," kata Hibrar. Teganag tersebut, kata Hibrar, sudah cukup dapat memberi efek kejut yang cukup. Bagian depan sepatu dilengkapi saklar yang dengan mudah ditekan untuk menyalakan alat.

Inovasi lain adalag "Egg Bag". Seperti namanya, tas berguna untuk membawa telur. tas dibuat dengan latar belakang risiko pecah saat berbelanja telur. Tas didesan berbentuk bulat telur dengan lubang-lubang di dalamnya untuk menempatakan telur.

Egg Bag diciptakan oleh Arina Shofiyanes Afidah, Arinda Putri Cahyaningsih dan Intan Dewi Setyarini dari SMA Negeri 6 Yogyakarta. Siswa lain dari sekolah yang sama memodifikasi tas sehingga memiliki tali untuk membantu berpegangan saat bus penuh. TAN 45 (Tas Anti Newton 1) dilengkapi tali yang bisa dikaitkan di pegangan bus.

Sementara, siswa MAN 2 Kudus, Himmatus Surroyya R dan Kana Dau S, membuat Jas Hujan Multifungsi.  Jas yang didesain dapat berfungsi sebagai jas hujan, penutup sepeda motor dan tenda untuk berkemah. Satu alat punya 3 fungsi.

"Ini berguna untuk mendukung kegiatan touring dan camping. Kalau membawa tiga alat berbeda, berat dan repot. Di sini cukup membawa satu alat," Kana. Ia mengatakan, untuk mengubah jas hujan menjadi tenda, alat penyangga sudah disiapkan dan bisa disiapkan dengan mudah.

Ragam inovasi yang dipamerkan setidaknya menunjukkan bahwa remaja mampu menangkap masalah keseharian dan berupaya untuk menyelesaikannya. Kepala LIPI, Lukman Hakim, mengungkapkan bahwa minat remaja untuk meneliti dan berinovasi perlu ditingkatkan.

sumber : kompas.com