Aplikasi Porno Jepang Marak Beredar di Google Play Store



Ratusan aplikasi porno marak beredar di Google Play Store. Lebih dari 200 aplikasi penipuan porno berbahasa Jepang terdeteksi telah diterbitkan oleh lebih dari 50 pengembang.


Perusahaan keamanan Symantec telah melacak keberadaan aplikasi ini sejak akhir Januari lalu. Dan sejak itu jumlah aplikasi porno ini terus meningkat hingga sekarang.

"Sejak saat itu, aplikasi tersebut diterbitkan oleh pengembang yang berbeda-beda dan jumlahnya terus meningkat meskipun banyak juga yang telah dihapus dari Google Play tanpa alasan yang jelas", kata Symantec melalui situs resminya, Kamis (4/4/2013).

Untuk menjaring korban, para pengembang ini menggunakan jebakan scam one-click (hanya dengan satu kali klik). Pengguna diiming-imingi dengan konten porno wanita-wanita Jepang agar tertarik mengklik link yang diberikan.

Ketika pengguna meng-klik sebuah link, maka secara tidak sengaja mereka akan men-download program berbahaya (malware) ke komputernya. Lalu pengguna akan diarahkan ke situs porno berbayar agar dapat melihatnya.

Biasanya, beberapa aplikasi membutuhkan pengguna untuk meng-approve permission 'Network communication'. Namun menurut Symantec beberapa aplikasi yang beredar tidak membutuhkan itu.

"Aplikasi ini hanya digunakan sebagai alat untuk memancing pengguna ke tipuan scam dengan membuka situs-situs penipuan berbau porno. Agar pengguna percaya dan merasa aman, maka aplikasi tersebut mencoba meminta permission", jelas Symantec.

Aplikasi itu sendiri tidak memiliki fungsi lain, tujuannya hanya untuk mendapatkan akses ke ponsel dan mengarahkan penggunanya ke situs porno tersebut.

Symantec memperingatkan agar pengguna berhati-hati saat mengunduh aplikasi di Google Play, sebab splikasi itu sangat mudah ditemukan di Google Play. Rata-rata pengguna yang terjebak masuk ke situs tersebut menghabiskan biaya sekitar 99.000 yen atau setara Rp 10,3 juta. 

Aplikasi ini telah diunduh setidaknya 5.000 kali dalam dua bulan terakhir. Pecinta pornografi bukanlah target satu-satunya aplikasi ini. Menurut Symantec, ada beberapa pengembang yang telah menerbitkan aplikasi layanan kencan palsu dengan modus jebakan yang sama.

Symantec telah menghubungi Google untuk meminta informasi lebih lanjut namun belum bisa mendapatkan jawaban.

Sumber: liputan6.com
Previous
Next Post »