Pria Ini Ditangkap Karena Memakan Kotoran di Toilet Wanita

man eat shit

Seorang pria di pusat perbelanjaan di Pengjiang, Guangdong, Cina, ditangkap karena kedapatan sedang memakan kotoran di toilet wanita. Menurut penjaga keamanan setempat, sebagaimana dilansir dari Shanghaiist, Jumat (15/05/2015), pria tersebut memang sudah sering terlihat berputar-putar di dekat toilet wanita. Tapi baru kali ini tertangkap tangan sedang memakan kotoran.

"Ia biasanya datang antara pukul 08:00-10:00 dan kembali lagi pada pukul 03:00," kata penjaga. Pria tersebut masuk saat perempuan di toilet belum membilas kotoran mereka. Sebagaimana yang diketahui, toilet di Cina kebanyakan berupa toilet jongkok. Sehingga mudah bagi si pemuda mendapatkan kotoran.

Pemuda tersebut akhirnya ditangkap karena semakin banyak perempuan yang mengadukan kelakuannya yang membuat tidak nyaman. Terutama karena si pemuda terkadang terlihat bersembunyi di toilet wanita.

Saat diwawancarai, pemuda tersebut mengatakan ia melakukannya karena ia lapar. Ia memilih kotoran di toilet perempuan karena menurutnya rasanya lebih lezat. Menurut pengakuannya pula, ia telah melakukan kebiasaan tersebut selama 8 tahun.

Seorang dokter di rumah sakit di Jiangmen meyakini bahwa pria tersebut mengidap gangguan kejiwaan.

(liputan6.com)

Kisah Adopsi Bayi Angeline Saat Berusia 3 Hari

Kisah Adopsi Bayi Angeline

Masalah biaya memaksa Amidah merelakan bayi Angeline lepas dari dekapannya. Hanya 3 hari saja Amidah menimang-nimang Angeline. 8 Tahun berlalu tanpa pernah bersua lagi, Amidah harus menyaksikan buah hatinya telah terbujur kaku.

"Angeline anak kedua dari 3 bersaudara," kata Amidah yang menangis histeris saat melihat jenazah Angeline di Instalasi Kamar Jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali pada Rabu 10 Juni 2015 malam.

Perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu ditemani kerabatnya, Supri. Kisah adopsi Angeline pun dituturkan Supri. Angeline diadopsi pada usia 3 hari. Sejak saat itu, Amidah tidak pernah bertemu lagi dengan Angeline karena tidak diperbolehkan, atau atas dasar kesepakatan bersama antara ibu angkat korban dengan ibu kandungnya.

"Ibu kandungnya belum pernah bertemu sejak Angeline diadopsi," jelas Supri.

Angeline saat lahir

Supri menuturkan, dalam proses adopsi bayi Angeline, Amidah dan Margriet Megawe --ibu angkat Angeline-- tidak pernah saling mengenal.

Saat itu keduanya berkenalan di klinik di Canggu, Denpasar, karena ketiadaan biaya melahirkan. Margriet kemudian membantu biaya persalinan dan bayi Angeline diadopsinya.

"Usia bayi Angeline saat itu baru berumur 3  hari dan dibawa oleh ibu angkatnya," jelas Supri.

Supri menjelaskan, selama 8 tahun, Amidah tidak pernah bertemu atau sekadar menjenguk Angeline. Saat berita kehilangan Angeline mencuat, ibu kandungnya itu juga tidak pernah bertemu dengan Margriet.

Pembunuhan Angeline

Angeline dilaporkan hilang pada 16 Mei 2015 oleh ibu angkatnya, Margriet Megawe. Bocah cantik berusia 8 tahun itu kemudian ditemukan tewas pada Rabu 10 Juni di belakang rumah, terkubur di dekat kandang ayam.

Hasil autopsi pada tubuh bocah kelas 2 SD itu ditemukan banyak luka lebam di daerah pinggang ke bawah. Ada juga luka lebam di dada samping kanan, leher samping kanan, dahi samping kanan, pelipis kanan, dahi samping kiri, batang hidung, pipi kiri atas, pipi kiri bawah telinga, leher samping kanan dan leher kanan atas bahu.

"Khusus pada lehernya ada bekas jeratan tali. Selain luka-luka tersebut ada luka bekas sundutan rokok," kata Kepala Instalasi Forensik RSUP Sanglah Denpasar, dr Dudut Rustyadi Sp.F.

Kapolresta Denpasar Anak Kombes Pol Agung Made Sudana menyatakan mantan satpam bernama Agus ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Angeline.

"Karena takut perbuatannya mencabuli Angeline diketahui ibu angkatnya, dia lalu membunuh korban. Tersangka kembali menyetubuhi jasad korban. Lalu membungkus dan dikubur dengan menggunakan sprei," kata Agung Made.

Menutur Agung Made, Agus bisa dijerat dengan UU Perlindungan Anak Pasal 80 ayat 3 dengan ancaman 16 tahun penjara.

(liputan6.com)

Masuk ke Ruang Ganti, Menko Puan dan Menpora Diusir Panitia SEA Games

menko pmk puan maharani dan menpora imam nahrawi

Tindakan memalukan pejabat Indonesia di SEA Games 2015, Singapura, menjadi pembicaraan hangat. Itu setelah salah satu ofisial timnas Indonesia U-23, Reza Anggara, ditegur Match Commisioner susai laga skuat Garuda Muda melawan timnas Kamboja di Stadion Jalan Besar, Singapura, Sabtu (6/6).

Ihwal peneguran perangkat pertandingan ke ofisial timnas berawal dari ketidakdisiplinan dua pejabat Indonesia. Keduanya adalah Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Kedua pejabat itu tiba-tiba masuk ruang ganti pemain pascalaga.

Karena nyelonong masuk ruang, Reza pun ditegur. "Benar, match comm lihat menteri masuk ruang ganti. Jadi, kami pun ditegur karena rombongan Menpora dan Menko PMK nyelonong ke ruang ganti tanpa izin. Match comm langsung usir mereka keluar dan menegur manajer timnas," begitu pengakuan Reza kepada salah satu media cetak.

(republika.co.id)

Polisi Bongkar Kuburan Angeline di Dekat Kandang Ayam

Polisi Bongkar Kuburan Angeline di Dekat Kandang

Kepolisian Daerah Bali membongkar kuburan Angeline (8) di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, Rabu (10/6/2015).

Jasad bocah yang hilang sejak 16 Mei itu dikubur di lahan pohon pisang yang berada di dekat kandang ayam di belakang rumah keluarganya.

Di lokasi itu, polisi mendapati gundukan tanah tidak beraturan yang ditutupi dengan sampah, yang diduga sengaja dilakukan guna mengelabuhi pandangan pihak berwajib.

Polisi mengangkat jenazah Angeline sekitar pukul 12.30 WITA.

Ratusan warga berkerumun di sekitar lokasi. Sebagian dari mereka menangis saat menyaksikan petugas membawa bungkusan jenazah bocah cantik itu keluar dari pintu samping rumah tersebut. 

(antara.com)

Vonis Anas Urbaningrum Diperberat MA dari 7 Tahun jadi 14 Tahun Penjara

Anas Urbaningrum Disidang

Majelis hakim Mahkamah Agung (MA) yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Krisna Harahap dan MS Lumme memperberat hukuman terhadap mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum setelah menolak kasasi yang diajukannya.

Anas yang semula dihukum tujuh tahun penjara kini harus mendekam di rumah tahanan selama 14 tahun. Menanggapi hal tersebut, Anas mendoakan semoga tiga hakim agung tersebut makin tenar dan moncer karirnya.

"Semoga pak Artidjo Alkostar makin tenar, pak MS Lumme makin kece, pak Krisna Harahap makin mantap. Tenar, kece dan mantap di atas kuburan keadilan.," ujar Anas melalui kuasa hukumnya, Handika Honggo Wongso, Selasa(9/6/2015).

Anas kata Handika tidak mengira hukuman terhadap dirinya bisa diperberat menjadi 14 tahun. Semestinya kata Anas majelis hakim kasasi bisa mengoreksi kezaliman dan kekerasan hukum menjadi putusan yang adil.

"Ternyata malah menambah sadisme dan memporak-porandakan keadilan," ujar Handika. Kini, atas keluarnya vonis tersebut lanjut Handika palu hakim majelis kasasi berlumuran 'darah'.

"Kebenaran dan kemanusiaan dilukai secara sengaja oleh nafsu menghukum yang menyala-nyala," katanya.

Mahkamah Agung memperberat hukuman terhadap mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum setelah menolak kasasi yang diajukannya. Anas yang semula dihukum tujuh tahun penjara kini harus mendekam di rumah tahanan selama 14 tahun.

"Anas Urbaningrum bukan hanya menemui kegagalan, tetapi justru telah menjadi bumerang baginya, ketika Majelis Hakim Agung di MA melipatgandakan hukuman yang harus dipikulnya menjadi 14 tahun pidana penjara," ujar juru bicara MA, Suhadi, saat dikonfirmasi, Senin (8/6/2015).

Selain itu, Anas juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 5 miliar subsider satu tahun dan empat bulan kurungan. Suhadi mengatakan, Anas juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 57.592.330.580 kepada negara. "Apabila uang pengganti ini dalam waktu satu bulan tidak dilunasinya, maka seluruh kekayaannya akan dilelang. Dan apabila masih juga belum cukup, ia terancam penjara selama empat tahun," kata Suhadi.

(tribunnews.com)

Kalah Lomba Tembak, AS dan Australia Minta Senapan Pindad Dibongkar

>TNI AD Latihan Menembak

Tim dari AS dan Australia meminta senjata yang digunakan TNI AD dalam kejuaraan menembak dibongkar. Mengapa dua negara sekutu itu melayangkan permintaan itu?

Dituturkan oleh Kadispen TNI AD Brigjen Wuryanto, tim dari AS dan Australia meminta senjata yang digunakan penembak TNI AD dibongkar di tengah kejuaraan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) yang digelar di Victoria, Australia pertengahan Mei lalu. Tim ini mengalahkan tuan rumah Australia dan AS yang masing-masing harus puas di posisi dua dan tiga. Indonesia menjadi juara untuk 8 tahun beruntun dalam even tersebut.

Dalam perlombaan, tim Indonesia menggunakan empat jenis senjata yaitu, senapan SS-2 V-4 Heavy Barrel dan pistol G-2 (Elite & Combat) buatan PT Pindad, senapan SO-Minimi buatan Belgia, senapan GPMG (General Purpose Machine Gun) buatan Belgia dan senjata sniper AW buatan Inggris. 

Tapi yang diminta dibongkar oleh AS dan Australia hanya senjata SS-2 V-4 Heavy Barrel dan pistol G-2 (Elite & Combat) buatan dalam negeri. "Hanya yang dari Pindad saja yang mereka ingin bongkar. Makanya nggak boleh," kata Brigjen Wuryanto dalam perbincangan, Rabu (3/6/2015).

Wuryanto tak mengetahui apa motif di balik keinginan AS dan Australia untuk membongkar senjata itu. "Bisa jadi karena kami yang menang," kata Wuryanto menganalisis.

Menarik disimak, SS2 yang merupakan kependekan dari Senapan Serbu 2 merupakan senapan yang tergolong asing bagi negara-negara barat seperti AS dan Australia. Tak ada satupun negara benua Eropa dan Amerika yang menggunakan senapan ini.

Adapun negara yang berminat terhadap SS2 adalah negara-negara di kawasan Asia. Dikutip dari berbagai sumber, tercatat Brunei, Myanmar dan Irak menyatakan berminat terhadap senapan yang bisa dipadukan dengan bayonet, peredam dan pelontar granat itu. Namun sampai saat ini belum ada deal yang disepakati.

Begitu juga dengan pendahulunya yakni Senapan Serbu (SS) 1, senjata itu tak pernah beredar di kawasan Eropa ataupun Amerika. Pembeli SS1 adalah negara di benua Asia dan Afrika seperti Kamboja, Mali, Nigeria dan Uni Emirat Arab.

(detik.com)

Makin Terpuruk, Rupiah Sentuh Level Terendah sejak 1998

Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menyentuh rekor pelemahan tertinggi sejak 1998. Di pasar spot, data Bloomberg menunjukkan, rupiah pada Kamis (4/6/2015) berada pada kisaran 13.249 per dollar AS, turun 0,14 persen dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 13.230 per dollar AS.

Sementara itu, Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, rupiah pada Kamis ini berada di level 13.243, melemah 0,35 persen dari hari sebelumnya yang ada di level 12.196 per dollar AS. 

Semakin tak berdayanya rupiah di hadapan dollar Amerika Serikat melanjutkan pelemahan yang terjadi pada Rabu kemarin. Hari itu, pasangan USD/IDR di pasar spot naik 0,15 persen menjadi 13.230.

Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, melihat, sentimen eksternal lebih dominan menjadi faktor penekan rupiah. Salah satunya adalah laporan data tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada Rabu (3/6/2015) malam. "Data AS bagus sehingga dollar menguat," ujar Putu. 

Maklum, membaiknya data AS ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. 

Perkiraan bahwa rupiah akan terkoreksi juga disampaikan Trian Fathria, Research and Analyst Divisi Treasury Bank Negara Indonesia (BNI). Menurut Trian, kondisi ini sejatinya tidak hanya dialami rupiah. Mata uang utama lainnya di dunia juga terimbas penguatan dollar.

(kompas.com)

Angkat Senjata Bela RI, Warga Tionghoa Tak Tertulis di Sejarah

prajurit tionghoa

Kiprah para warga Tionghoa mengangkat senjata saat perang kemerdekaan Indonesia adalah nyata. Sayangnya, kisah mereka tak pernah tertulis dalam buku-buku sejarah di sekolah. 

Absennya kiprah para pejuang Tionghoa dalam buku sejarah di sekolah ini memunculkan anggapan bahwa masyarakat dari etnis Tionghoa cuma berpangku tangan dan menjadi penonton pada era revolusi fisik. 

Sekretaris Jenderal Legiun Veteran Republik Indonesia Marsekal Muda (Purnawirawan) FX Soejitno mengungkapkan, kiprah masyarakat etnis Tionghoa dalam ketentaraan di Indonesia sejatinya sudah ada sebelum perang kemerdekaan dan selama perjuangan merebut kemerdekaan. Sebelum Indonesia merdeka, terutama pada masa pemerintahan kolonial Belanda, banyak warga keturunan Tionghoa yang bahu-membahu bersama pejuang Indonesia melawan penjajah.

Kiprah serupa terjejak menjelang dan pada awal kemerdekaan. Pada masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan, banyak anggota masyarakat keturunan Tionghoa yang bergabung dalam laskar pemuda pejuang. 

“Karena, sesaat setelah proklamasi, kita kan belum memiliki tentara. Jadi badan-badan perjuangan yang mempertahankan kemerdekaan itu ya laskar-laskar pemuda,” tutur Soejitno kepada Majalah Detik, yang menemui di kantornya, gedung Balai Sarbini, Jakarta.

Ketika pemerintah resmi membentuk tentara, seperti halnya anggota laskar yang lainnya, tidak sedikit dari anggota laskar keturunan Tionghoa yang memilih kembali menjadi masyarakat sipil atau profesi sebelumnya. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang bergabung dalam institusi tentara.

Peluang warga keturunan Tionghoa menjadi tentara, Soejitno melanjutkan, juga tidak pernah tertutup atau ditutup. Seperti suku-suku lain di Indonesia, mereka memiliki hak yang sama.

“Sebab, di dunia militer, baik tentara maupun polisi, tidak ada satu pun aturan atau undang-undang yang menyebut larangan bagi suku atau ras tertentu menjadi anggotanya,” kata Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional pada 1993-1995 itu.

Dia mencontohkan pengalamannya saat masuk Akademi Angkatan Udara pada 1965. Saat itu, dari sekian puluh ribu pendaftar, yang diterima sekitar 100 orang. Dari jumlah tersebut, empat orang di antaranya adalah pemuda keturunan Tionghoa. Ia menduga minimnya minat masyarakat keturunan Tionghoa masuk menjadi tentara lebih karena kesejahteraan yang kurang menjanjikan ketimbang menjadi pengusaha. 

“Jangankan masuk ke tamtama atau bintara, gaji perwira tentara itu lebih kecil dibanding berbisnis,” ujar mantan asisten KSAU itu.

Namun Ivan Wibowo, pengacara yang aktif di lembaga Jaringan Tionghoa Muda, punya pandangan berbeda. Minimnya minat warga Tionghoa masuk TNI-Polri karena memang ada semacam kebijakan tak tertulis bahwa profesi tersebut, termasuk pegawai negeri sipil, memang tertutup untuk mereka. Hal ini terkait dengan wacana yang sempat mengemuka dalam Seminar Angkatan Darat II pada 1966, yang menganjurkan penggantian istilah Tionghoa dengan Cina. 

“Padahal resminya tak pernah ada peraturan yang melarang,” ujarnya.

Kalaupun di era Soekarno terdapat rekrutmen besar-besaran dalam ketentaraan yang diikuti banyak orang Tionghoa, itu karena ada Operasi Dwikora (konflik dengan Malaysia) dan Trikora (pembebasan Irian Barat) serta berbagai pemberontakan di seluruh Nusantara, mulai Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, Perjuangan Rakyat Semesta, sampai Republik Maluku Selatan. Karena negara butuh banyak tentara, setiap calon sarjana, apalagi dokter, dokter gigi, apoteker, dan insinyur, secara otomatis harus ikut seleksi jadi tentara.

“Periode ini mungkin adalah periode di mana orang Tionghoa paling banyak menjadi tentara karena dimobilisasi melalui gelar akademis,” ujar Ivan.

Tapi pasca-Gerakan 30 September 1965 dan ketika rezim Orde Baru berkuasa, yang terjadi kemudian adalah pembatasan-pembatasan, seperti tidak diperbolehkannya penggunaan aksara Cina, pelarangan sekolah Cina, dan pengetatan seleksi pelajar Tionghoa yang akan masuk universitas.

Meski begitu, di era sekarang, Ivan berharap warga keturunan Tionghoa yang memang benar-benar berminat menjadi tentara sebaiknya mendaftar dan mengikuti ujian secara fair. Sebaiknya, ujarnya, tidak langsung berprasangka bahwa mereka akan dipersulit atau dilarang masuk tentara-polisi. 

“Kalau memang tidak ada yang diterima, baru pantas protes. Kalau sudah diterima, tentu harus berprestasi. Minimal harus paling berani di medan perang. Bintang itu diperebutkan, bukan diberikan,” ujarnya.

*) Isi dari artikel ini sudah dimuat dalam Majalah Detik Edisi 114 yang terbit 3 Februari 2014